|
Saat ini kita sering mendengar mengenai kewirausahaan yang perlu ditanamkan pada masyarakat. Hal ini dilakukan karena mental kewirausahaan dekat dengan pemberdayaan. Mental wirausaha adalah mental manusia yang berdaya. Perasaan berdaya merupakan awal untuk sukses. Kaarena perasaan berdaya adalah sikap mental yang mampu mengarahkan individu untuk meraih apapun yang diinginkan.
Pada awalnya mental kewirausahaan pada karyawan seolah mengancam system yang berjalan di perusahaan karena karyawan akan bersikap “semaunya” berani ambil resiko dan bertindak tidak menghormati tatanan perusahaan yang berlaku. Tapi jika seorang karyawan memiliki mental wirausaha yang diarahkan sesuai dengan nilai perusahaan yang berlaku, maka kinerja perusahaan akan meningkat.
Sebagai ilustrasi, Sebuah perusahaan jasa perbaikan mobil besar memiliki seorang technical advisor yang bekerja sebagai jembatan antara pengguna mobil dan teknisi. Suatu hari menjelang hari raya seseorang ingin mereparasi kendaraannya. Karena mendekati hari raya spare part yang dibutuhkan tidak tersedia. Sesuai prosedur yang ada maka technical advisor ini melakukan modifikasi dengan mengelas sparepart yang rusak.
Ketika pengerjaan selesai pemilik mobil segera mengambil mobilnya. Tentu saja dia bertanya apakah mobilnya cukup fit untuk bisa dipakai mudik. Karena modifikasi sparepart bukan merupakan jaminan maka si technical advisor tidak berani menjawab. Padahal pemilik mobil membawa mobil ke bengkel untuk bisa mudik, tentu saja si pemilik mobil jadi kecewa karena dirinya tidak bisa merasa aman apakah mobilnya fit untuk dibawa mudik.
Seandainya si technical advisor berani untuk mengambil sikap apakah mobilnya fit atau tidak fit maka si pemilik mobil bisa mengambil sikap. Sayangnya karena mental kewirausahaan tidak ada pada si technical advisor, dia tidak berani mengambil resiko untuk menentukan sikap. Salah satu dari mental kewirausahaan adalah berani mengambil resiko terhadap keputusannya. Ketika konsumen membutuhkan kepastian mengenai keadaan mobilnya, technical advisor hanya menggantungkan jawaban karena tidak berani terhadap resiko terhadap jawabannya.
Mental kewirausahaan mebuat seseorang berni bertanggung jawab terhadap keputusannya. Jika di manage dengan baik, maka keberanian mengambil resiko sangat bermanfat bagi konsumen. Konsumen bisa mendapatkan kepastian mengenai pelayanan yang diberikan. Mental wira usaha akan membawa technical advisor untuk berani bertanggung jawab.
Banyak kejadian konsumen tidak mendapatkan kepastian krena orang yang berhadapan dengan konsumen terlalu bergantung dengan prosedur sehingga dirinya aman terhadap dengan posisinya. Walaupun demikian perilaku tersebut sangatlah merugikan konsumen. Sayangnya kebanyakan system perusahaan yang ada saat ini, karyawan takut untuk mengambil resiko karena dirinya tidak didukung oleh atasan atau system yang berlaku. Secara tidak langsung perusahaan saat ini tidak berorientasi kepada konsumen karena tidak memberikan kesempatan pada karyawan bertanggung jawab terhadap kesejahteraan konsumen.
Membangun mental wirausaha pada karyawan (part2 of 2)
Dari tulisan terakhir kami telah memaparkan kesulitan yang terjadi jika mental bergantung pada sistem dapat merugikan konsumen. Jika seluruh sistem yang berlaku di masyarakat merugikan konsumen, tentu perusahaan yang mampu mengelola inisiatif karyawannya sehingga tidak merugikan konsumen maka perusahaan tersebut memiliki keunggulan kompetitif dalam menarik perhatian konsumen. Perusahaan tersebut dapat menjadi market leader dalam bidang usahanya.
Mari kita telaah apa itu mental wirausaha. Mental wirausaha adalah mental berdaya terhadap semua perilaku yang dilakukan. Orang yang berdaya akan merasa mampu untuk melakukan apapun yang lebih baik. Kita bisa lihat pada wirausahawan yang berhasil yang selalu merasa dirinya mampu meraih keberhasilan yang lebih dari sebelumnya. Karena merasa mampu maka seorang wirausahawan berusaha dengan segenap kemampuannya mengatasi tantangan yang menghadang. Begitu pula pada seorang karyawan yang bermental wirausaha, yang juga akan berani untuk memperjuangkan segala sesutaunya lebih baik. Jika dia berani memperjuangkan kesejahteraan konsumen maka dia akan bertindak dengan penuh percaya diri berusaha agar konsumen puas dengan layanan yang akan diberikannya.
Kenyataannya seorang karyawan akan berhadapan dengan atasannya, rekan kerjanya bahkan dengan sistem jika dia berusaha mensejahterakan konsumennya. Keberaniannya akan membuat dirinya melihat peluang yang ada agar konsumennya terpuaskan. Dia akan mampu membujuk atasannya,, rekanannya dan berusaha mencari cara agar tidak merugikan sistem.
Wirausahawan memilki mental bagaimana konsumen terpuaskan secara maksimal. Ketika menjadi besar dirinya menciptakan sistem agar menjamin konsumen terpuaskan. Sayangnya dalam kenyataan, terkadang sistem yang dibangun membuat bawahan terlalu fokus pada aturan (dalam rangka menjaga posisi) yang awalnya diciptakan agar tidak menmunculkan kesalahan yang berujung pada merugikan konsumen
Hal ini biasa terjadi pada banyak organisasi karena kurangnya pemahaman nilai yang berbeda antara atasan dan bawahan. Hal ini sebetulnya dapat menghambat organisasi untuk meraih tujuannya karena terpaku pada jutlak aturan yang ada. Kondisi ini membuat organisasi tidak lagi fleksibel terhadap perubahan. Padahal salah satu mental wirausaha adalah peka terhadap perubahan sehingga dapat melihat perubahan yang ada sebagai peluang meningkatkan kesuksesan.
Oleh karena itu, perlu bagi karyawan untuk memahami nilai yang dianut oleh perusahaannya dengan baik agar karyawan dengan fleksibel dapat berimprovisasi terhadap keadaan yang selalu berubah, begitu juga dengan organisasi di satu sisi juga harus mampu memberi rasa aman terhadap karyawan yang berani bertindak demi kesejahteraan perusahaan.
Agar situasi ini bisa terjadi perlu dibangun komunikasi penuh kepercayaan antara manajerial dengan karyawan. Agar situasi ini terjadi, manajerial harus memahami siapa bawahannya dan karyawan pun harus memahami pula apa yang diinginkan manajerial. Salah satu cara agar manajerial dapat memahami dengan jelas siapa bawahannya yakni dengan melakukan pengukuran psikologis yang dilakukan dengan pendekatan yang tepat sehingga pesan yang disampaikan oleh manajerial tidak salah ditangkap oleh karyawan. Karyawan juga dapat dilatih dengan pelatihan yang tepat berdasarkan pengukuran tersebut agar menghapuskan mental cari aman. Mental cari aman, merupakan tanda bahwa karyawan merasa tidak berdaya. Ketidak berdayaan merupakan cerminan ketidak produktifitas. Apakah keadaan ini yang ingin kita biarkan terjadi.
Menyiapkan mental menghadapi bencana. Beberapa hari yang lalu Indonesia berduka karena gempa yang terjadi di bumo andalas. Tidak ada sebulan yang lalu, gempa juga menghampiri tanah pasundan. Seolah bencana menjadi rutinitas sehari-hari dalam pemberitaan dan obrolan sehari-hari. Keadaan ini tidak bisa kita ubah karena kita tidak memiliki kuasa untuk menentukan dimana bencana akan terjadi, namun kita punya kuasa untuk mengubah hati dan pikiran kita agar siap menghadapi bencana.
Mempersiapkan diri menghadapi bencana memang sulit dilakukan, kita cenderung lebih memilih untuk menyingkirkan kemungkinan bencana menimpa kita. Oleh karena itu jika bencana menimpa, diri kita tidak akan pernah siap terhadap bencana. Memberikan ruang terhadap kemungkinan terjadi bencana memang memunculkan kecemasan yang tinggi pada diri kita. Walaupun demikian, mempersiapkan diri akan kemungkinan bencana dapat membantu kita lebih siap untuk mengatasi bencana jika hal itu benr-benar terjadi pada diri kita.
Pola pikir yang harus disiapkan dalam menghadapi bencana adalah “saya tidak berdaya terhadap dengan kehidupan” pola pikir tersebut akan membuat kita mampu menerima segala bentuk kesulitan termasuk bencana yang menimpa. Perlu anda ketahui segala bentuk intervensi psikologis yang dilakukan ditempat bencana adalah memfasilitasi korban bencana agar menerima keadaan yang terjadi dan berangkat dari keterpurukan menuju hidup yang baru.
Pola pikir yang menghambat penerimaan adalah “kenapa harus saya?” “apakah tuhan menghukum saya?” contoh ini gambaran merupakan pola pikir umum yang muncul jika manusia terkena bencana. Pertanyaan tersebut itu sendiri tidak akan pernah bisa dijawab dan membuat orang terus terpuruk dalam kehilangan. Dengan mental “saya tidak berdaya terhadap kehidupan” anda akan selalu siap untuk menerima apapun yang terjadi. Penerimaan terhadap segala kehidupan yang terjadi membantu korban bencana untuk memulai hidup baru dan bangkit dari keterpurukan. Proses penerimaan diri juga membantu seseorang untuk menarik hikmah secara positif terhadap keadaan yang terjadi. Sebaliknya penyangkalan dan kurangnya penerimaan akan menghambat seseorang untuk bangkit dari keterpurukan karena tidak bisa memberi makna yang positif. Sebaliknya perasaan marah dan kesedihan yang berkepanjangan akan membuat seseorang tidak bergerak dari keadaan yang menimpanya.
Sangatlah wajar reaksi emosi yang sangat negatif terjadi ketika kita kehilangan semua. Kematian sanak saudara yang dicintai, kehilangan harta benda, kecacatan fisik akan membuat kondisi fisik dan keadaan mental dipenuhi reaksi-reaksi emosi yang menghambat seseorang untuk bangkit. Namun seperti layaknya luka fisik, luka batin dapat sembuh dengan sendirinya. Permasalahannya apakah kita memilih untuk bangkit dan terus tumbuh atau terus menikmati kesengsaraan tanpa ada upaya untuk bangkit dan berkembang.
Dengan pemahaman bahwa saya tidak berdaya terhadap kehidupan, akan membuat kita mampu untuk mengeluarkan reaksi-reaksi emosi negatif dalam diri dalam bentuk yang lebih sehat. Oleh karena itu langkah pertama pada psikososial adalah memfasilitasi reaksi-reaksi emosi negatif keluar secara sehat. Dalam bahasa psikologi, proses pengeluaran reaksi emosi negatif dinamakan eksternalisasi. Eksternalisasi emosi membantu meredakan ketegangan emosional dalam diri sehingga diri mampu menerima keadaan yang ada.
Untuk mampu melakukan eksternalisasi seseorang bisa melakukannya selama ia jujur terhadap perasaan yang ada pada dirinya. Namun jika seseorang sulit untuk jujur terhadap perasaannya maka ada baiknya mencari fasilitator untuk meredakan ketegangan emosi yang terjadi. Menggunakan jasa professional seperti psikolog atau psikiater akan mempermudah seseorang untuk menata emosi agar dapat bangkit menghadapi tantangan hidup selanjutnya.
Mengatasi gaya hidup “tua dijalan” karena kemacetan.
Tinggal di Jakarta merupakan perjuangan berat karena harus berhadapan dengan kemacetan setiap hari. Untuk jarak tempuh 20 km, kita mungkin menghabiskan waktu tempuh hampir 2 jam terutama pada jam sibuk seperti berangkat atau pulang kerja keadaan ini memang tidak bisa dihindari dan akan menjadi rutinitas selama tidak ada terobosan yang berarti dari pemerintah. Bagaimanakah kita mampu menyikapi keadaan ini dengan bijak dan kesejahteraan mental kita tetap terjaga?
Tentu saja kreatifitas untuk menilai kemacetan dapat membantu kita menyikapi permasalahan ini, salah satu solusi adalah menggunakan waktu di dalam kendaraan dengan bijaksana. Waktu di mobil yang lebih dari 4 jam sehari dapat dipergunakan untuk meningkatkan produktifitas. Misalnya sambil menunggu antri pintu tol, dapat membaca buku atau laporan pekerjaan. Jika anda memiliki anak ada baiknya anda membina waktu yang berkualitas dengan anak anda selama perjalanan.
Semua aktivitas yang menarik bisa anda ciptakan di dalam mobil. Yang perlu anda persiapkan hanyalah perasaan bahwa kemacetan bukanlah halangan melainkan berkah. Tentu saja hal ini tampak seperti main-main, namun banyak hal positif yang bisa anda syukuri saat anda terjebak kemacetan. Sikap mental yang positif dapat membantu anda untuk tetap produktif ditempat kerja. Jika anda bersungut-sungut dengan kemacetan, maka energi mental anda akan habis saat tiba ditempat kerja dan atau ketika anda sampai rumah. Di tempat kerja anda akan sulit konsentrasi dalam bekerja dan setibanya dirumah, anda akan uring-uringan. Produktifitas menurun, keharmonisan dengan keluarga tidak terjalin.
Hal positif yang anda bisa nikmati dalam kemacetan yakni bahwa pada kenyataannya anda memiliki waktu yang spesial bersama pasangan anda atau keluarga anda. Jika anda single, anda punya banyak waktu untuk memikirkan langkah anda pada awal hari atau menarik hikmah yang anda dapatkan pada pulang hari. Bagi anda yang berkeluarga, pada pagi hari anda bisa mengobrol dengan keluarga anda, makan pagi bersama bahkan bercanda sambil meningkatkan keakraban.
Bagaimanapun kemacetan merupakan salah satu stressor, dan sebaik apapun kita menyiasatinya, stres tetap terjadi. Oleh karena itu ada baiknya anda tidak berpergian di hari libur agar anda bisa mengistirahatkan fisik dan mental anda dari kemacetan yang biasa dihadapi. Olahraga seperti jogging, atau bersepeda bersama keluarga dapat membantu meredakan ketegangan setelah seminggu anda penat menghabiskan banyak waktu di kendaraan.
Menyikapi keadaan yang tidak bisa anda ubah secara positif dapat membantu anda mereduksi ketegangan yang terjadi dalam diri anda yang disebabkan oleh kepadatan jalan raya dan stress akibat aktivitas hidup dengan tuntutan tinggi seperti saat ini .
Redaksi ( Rabu, 05/10/09 14:38 )
|